Modern Choice Approach
to Participation yang memuat Decicion Tree for Leadership dari Vroom &
Yetton.
Salah
satu tugas utama dari seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Karena
keputusan-keputusan yg dilakukan para pemimpin sering kali sangat berdampak kepada
para bawahan mereka, maka jelas bahwa komponen utama dari efektifitas pemimpin
adalah kemampuan mengambil keputusan yang sangat menentukan keberhasilan
melaksanakan tugas-tugas pentingnya. Pemimpin yang mampu membuat keputusan
dengan baik akan lebih efektif dalam jangka panjang dibanding dengan mereka yg
tidak mampu membuat keputusan dengan baik. Sebagaimana telah kita pahami bahwa
partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan kepuasan
kerja, mengurangi stress, dan meningkatkan produktivitas.
Normative Theory dari Vroom and Yetton sebagai berikut :
Normative Theory dari Vroom and Yetton sebagai berikut :
· AI (Autocratic) : Pemimpin memecahkan
masalah atau membuat keputusan secara unilateral, menggunakan informasi yang
ada.
· AII (Autocratic) : Pemimpin memperoleh
informasi yang dibutuhkan dari bawahan namun setelah membuat keputusan
unilateral
· CI (Consultative) : Pemimpin membagi
permasalahan dengan bawahannya secara perorangan, namun setelah itu membuat
keputusan secara unilateral.
· CII (Consultative) : Pemimpin membagi
permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok dalam rapat, namun setelah
itu membuat keputusan secara unilateral.
· GII (Group Decision) : Pemimpin membagi
permasalahan dengan bawahannya secara berkelompok dalam rapat; Keputusan
diperoleh melalui diskusi terhadap konsensus.
Dalam
memilih alternatif-alternatif pengambilan keputusan tersebut para pemimpin
perlu terlebih dahulu membuat pertanyaan kepada diri sendiri, seperti: apakah
kualitas pengambilan keputusan yang tinggi diperlukan, apakah saya memiliki
informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang berkualitas tersebut, apakah
permasalahannya telah terstruktur dengan baik. Dalam kaitannya dengan
penerimaan keputusan, pemimpin harus bertanya, apakah sangat penting untuk
efektifitas implementasi para bawahan menerima keputusan, apakah para bawahan
menerima tujuan organisasi yang akan dicapai melalui pemecahan masalah ini.
Hal-hal
yang harus diperhatikan :
·
Beberapa proses sosial mempengaruhi
tingkat partisipasi bawahan dalam pemecahan masalah.
· Spesifikasi kriteria untuk menilai
keefektifan keputusan Yang termasuk dalam keefektifan keputusan antaralain :
kualitas keputusan, komitmen bawahan, dan pertimbangan waktu.
·
Kerangka untuk menggambarkan perilaku
atau gaya pemimpin yang spesifik
·
Variabel diagnostik utama yang
menggambarkan aspek penting dari situasi kepemimpinan
Teori kepeimpinan dari
Konsep Contingency Theory of Leadership dari Fiedler
Teori
Contingency menganggap bahwa kepemimpinan adalah suatu proses di mana kemampuan
seorang pemimpin untuk melakukan pengaruhnya tergantung dengan situasi tugas
kelompok (group task situation) dan tingkat-tingkat daripada gaya
kepemimpinannya, kepribadiannya dan pendekatannya yang sesuai dengan
kelompoknya. Dengan perkataan lain, menurut Fiedler, seorang menjadi pemimpin
bukan karena sifat-sifat daripada kepribadiannya, tetapi karena berbagai faktor
situasi dan adanya interaksi antara Pemimpin dan situasinya.
Model Contingency dari kepemimpinan
yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967):
Menurut
model ini, maka the performance of the group is contingen upon both the
motivasional system of the leader and the degree to which the leader has
control and influence in a particular situation, the situational favorableness
(Fiedler, 1974:73). Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu
kelompok dipengaruhi oleh sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana
pemimpin dapat mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi tertentu.
Untuk
menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap
dalam bentuk skala semantic differential, suatu skala yang terdiri dari 16
butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis yang
dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling
tidak disenangi” (Least Prefered Coworker = LPC). Skor LPC yang tinggi
menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja yang paling tidak disenangi
dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa pemimpin dengan skor LPC yang
tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor
LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang
dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke
terlaksananya tugas (task oriented). Fiedler menyimpulkan bahwa:
· Pemimpin dengan skor LPC rendah
(pemimpin yang berorientasi ke tugas) cenderung untuk berhasil paling baik
dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan, maupun yang sangat tidak
menguntungkan pemimpin.
· Pemimpin dengan skor LPC tinggi (
pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung untuk berhasil dengan baik
dalam situasi kelompok yang sederajat dengan keuntungannya.
· Sebagai landasan studinya, Fiedler
menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada situasi / lingkungan yang
mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif, yaitu:
Ø Kekuasaan
atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar
kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan yang berasal dari tipe
kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan
atas kekuasaan ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang
dapat diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana
kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational
authority).
Ø Struktur
tugas (task structure)
Pada dimensi ini
Fiedler berpendapat bahwa selama tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan
orang-orang diberikan tanggung jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi
di mana tugas-tugas itu tidak tersusun (unstructure) dan tidak jelas. Apabila
tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja akan
lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas
pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu
tidak jelas atau kabur.
Ø Hubungan
antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member relations)
Dalam dimensi ini Fiedler
menganggap sangat penting dari sudut pandangan seorang pemimpin. Kekuasaan atas
dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas dapat dikendalikan secara lebih
luas dalam suatu badan usaha / organisasi selama anggota kelompok suka
melakukan dan penuh kepercayaan terhadap kepimpinannya (hubungan yang baik
antara pemimpin-anggota).
Berdasarkan
ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang
berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat
keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota
baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling
tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik,
struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.
Teori kepemimpinan dari
Konsep Path Goal Theory
Path-Goal
Theory atau model arah tujuan ditulis oleh House (1971) menjelaskan
kepemimpinan sebagai keefektifan pemimpin yang tergantung dari bagaimana
pemimpin memberi pengarahan, motivasi, dan bantuan untuk pencapaian tujuan para
pengikutnya. Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin
ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik
situasi (House 1971).
· Menurut House, tingkah laku pemimpin
dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok:
Supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat).
· Directive leadership (mengarahkan
bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedurdan petunjuk yang ada).
· Participative leadership (konsultasi
dengan bawahan dalam pengambilan keputusan)
· Achievement-oriented leadership
(menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja
yang memuaskan).
Menurut
Path-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas
pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan
internal organisasi seperti misalnya peraturan dan prosedur yang ada. Walaupun
model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel
sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi, namun demikian
model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi
yang paling efektif antara karakteristik pribadi, tingkah laku pemimpin dan
variabel situasional.
Daftar Pustaka
Purwanto,
Djoko.(2006). Komunikasi Bisnis.
Jakarta : Erlangga.
Robbins,
S.P & Judge, T.A.(2008). Perilaku
organisasi. Jakarta : Salemba Empat.
Sutikno,
R.J.(2007). The power of empathy in
leadership. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar