1.
Jelaskan
metode transaksional analisis dalam penerapan terapinya!
Analisis
Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam
terapi individual, tetapi ini lebih cocok digunakan untuk terapi kelompok. AT
berbeda dengan sebagian besar terapi lain karena merupakan suatu terapi
kontraktual dan desisional. AT melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien,
yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses terapi. AT juga
berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan
kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru.
Pendekatan
ini dikembangkan oleh Eric Berne, berlandaskan suatu teori kepribadian yang
berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan
suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu :
orang tua, orang dewasa, dan anak. Teori Berne menggunakan beberapa kata utama
dan menyajikan suatu kerangka yang bisa dimengerti yang dipelajari dengan
mudah. Kata-kata utamanya adalah orang tua, orang dewasa, anak, putusan,
putusan ulang, permainan, skenario, pemerasan, dicampuri, pengabaian, dan ciri
khas. Karena sifat operasional AT dengan kontraknya, taraf perubahan klien bisa
dibentuk.
AT adalah suatu sistem terapi yang berlandaskan
teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego
yang terpisah, yaitu ego orang tua, ego orang dewasa, dan ego anak. Kondisi ego
orang tua (O) atau aslinya disebut oleh Berne dengan exteropsyche adalah prototype
yang ditampilkan seseorang seperti layaknya bokap nyokap. Yakni penampilan yang
terikat kepada sistem nilai, moral dan serangkaian kepercayaan. Bentuk nyatanya
berupa pengontrolan, membimbing, membantu mengarahkan, menasehati, menuntun
atau dapat pula mengecam, mengkritik, mengomand, melarang, mencegah atau
memerintah. Kondisi ego orang dewasa (D) atau neopsyche adalah reaksi yang bersifat realistis dan logis. Status
ego ini sering disebut komplek. Karena bertindak dan mengambil keputusan
berdasarkan hasil pemrosesan informasi dari data dan fakta lapangan. Kondisi
ego anak (A) atau archaeopsyche merupakan keadaan dan reaksi emosi yang kadang-kadang
adaptif, intuitif, kreatif, dan emosional, tetapi kadang-kadang juga bertindak
lepas, ingin terbebas dari pengaruh rang lain.
Tujuan
dasar Analisis Transaksional adalah membantu klien dalam membuat
putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah
hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan
dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan-piutusan diri mengenai posisi
hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara-cara hidup yang mandul dan
deterministik. Inti terapi adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh
permainan yang manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang mengalahkan
diri, dengan gaya hidup otonom yang ditandai dengan kesadaran, spontanitas, dan
keakraban.
Berne
(dalam Corey, 2013) menyatakan bahwa tujuan utama AT adalah pencapaian otonomi
yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik, yaitu kesadaran,
spontanitas, dan keakraban.
Dalam
praktek AT, teknik-teknik dari berbagai sumber, terutama pada terapi Gestalt,
memiliki prosedu-prosedur yang mengasikan yang dikawinkan antara analisis
transaksional dan terapi gestalt. James dan jongeward dalam (Corey, 2013)
menggabungkan konsep-konsep dan proses-proses AT dengan eksperimen-eksperimen
gestalt. Dengan pendekatan hubungan itu, ia mendemonstrasikan peluang yang
lebih besar untuk mencapai kesadarn diri dan otonomi.
2.
Jelaskan
perbandingan terapi individu & terapi kelompok!
Terapi individu adalah penanganan
klien dengan pendekatan hubungan individual antara seorang terapis dengan
seorang klien. Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan
klien untuk mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang
disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis
(terstruktur) sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku
klien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan. Hubungan
terstruktur dalam terapi individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan
konflik yang dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan
penderitaan (distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya.
Terapi kelompok adalah
terapi psikologi yang dilakukan secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi
klien dengan gangguan interpersonal. Keuntungan yang diperoleh individu melalui
terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan (support), pendidikan,
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan
interpersonal dan meningkatkan uji realitas sehingga terapi aktivitas kelompok
ini dapat dilakukan pada karakteristik gangguan seperti : gangguan konsep diri,
harga diri rendah, perubahan persepsi sensori halusinasi, klien dengan perilaku
kekerasan atau agresif dan amuk serta menarik diri/isolasi sosial. Selain itu,
dapat mengobati klien dalam jumlah banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah
secara kelompok, menggali gaya berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam
memecahkan masalah, dan belajar peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini
juga terdapat kekurangan yaitu : kehidupan pribadi klien tidak terlindungi,
klien kesulitan mengungkapkan masalahnya, terapis harus dalam jumlah banyak.
Dengan sharing pengalaman pada klien dengan isolasi sosial diharapkan klien
mampu membuka dirinya untuk berinteraksi dengan orang lain sehingga
keterampilan hubungan spasial dapat di tingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.
3.
Jelaskan
metode terapi rasional emotif dalam penerapannya!
Terapi
rasional emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa
manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur
maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki
kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan
mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan
mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki
kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran,
berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan,
takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari
pertumbuhan dan aktualisasi diri. Terapi rasional emotif menegaskan bahwa
manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi
potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan
masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan
keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan
dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia
mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain. TRE menekankan bahwa manusia
berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi
tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas
suatu situasi yang spesifik
-
Penerapan pada Terapi Individual
TRE
yang diterapkan pada penanganan seseorang kepada seseorang pada umumnya
dirancang sebagai terapi yang relatif singkat. Ellis (dalam Corey, 2009) menyatakan
bahwa orang-orang yang mengalami gangguan-gangguan emosional yang berat
sebaiknya menjalani terapi individual maupun kelompok dalamperiode tujuh bulan
sampai satu tahun agar mereka memiliki kesempatan untuk mempraktekan apa yang
sedang mereka pelajari. Klien mulai dengan mendiskusikan masalah-masalah yang
paling menekankan dan menjabarkan perasaan-perasaan yang paling membingungkan
dirinya. Kemudian terapis mencari peristiwa-peristiwa pencetus yang
mengakibatkan perasaan-perasaan yang membingungkan itu. Terpis juga mengajak
klien untuk melihat keyakinan-keyakinan irasional yang diasosiasikan dengan
kejadian-kejadian pencetus dan mengajak klien untuk mengatasi
keyakinan-keyakinan irasionalnya dengan menugaskan kegiatan-kegiatan pekerjaan
rumah yang akan membantu klien untuk secara langsung melumpuhkan
gagasan-gagasan irasionalnya itu serta membantu klien dalam mempraktekan
cara-cara hidup yang lebih rasional.
-
Penerapan pada Terapi Kelompok
TRE
sangat cocok untuk diterapkan pada terapi kelompok karena semua anggota diajari
untuk menerapkan prinsip-prinsp TRE pada rekan-rekannya dalam settingkelompok.
Mereka memperoleh kesempatan untuk mempraktekan tingkah laku-tingkah laku baru
yang melibatkan pengambilan-pengambilan risiko dan untuk pelaksanaan tugas pekerjaan
rumah. Ellis (dalam Corey, 2009) mengembangkan suatu bentu terapi kelompok yang
dikenal dengan nama A Weekend of Rational Encounter yang memanfaatkan metode-metode
dan prinsip-prinsip TRE. TRE memiliki beberapa keterbatasan. Karena pendekatan
ini sangat didaktik, terapis perlu mengenal dirinya sendiri dengan baik dan
hati-hati agar tidak hanya memaksakan filsafat hidupnya sendiri kepada para
kliennya. Terapis TRE mengetahui kapan dia harus dan kapan dia tidak boleh
“mendorong” klien. Seorang terapis bisa keliru menggunakan TRE dengan
menyempitkan TRE menjadi pemberian metode-metode penyembuhan kilat, yakni
dengan menyampaikan kepada para klien apa yang salah dan bagaimana mereka harus
mengubahnya.
4.
Jelaskan
metode terapi perilaku dalam penerapannya!
Terapi
perilaku (Behaviour therapy, behavior
modification) adalah pendekatan untuk psikoterapi yang didasari oleh Teori
Belajar (learning theory) yang
bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety
disorders, phobias, dengan memakai tehnik yang didesain menguatkan kembali
perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Terapi
perilaku pertama kali ditemukan pada tahun 1953 dalam proyek penelitian oleh BF
Skinner, Ogden Lindsley, dan Harry C. Salomo. Selain itu termasuk juga Wolpe
Yusuf dan Hans Eysenck. Secara umum, terapi perilaku berasal dari tiga Negara,
yaitu Afrika Selatan (Wolpe), Amerika Serikat (Skinner), dan Inggris (Rachman
dan Eysenck) yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam melihat
masalah perilaku. Eysenck memandang masalah perilaku sebagai interaksi antara
karakteristik kepribadian, lingkungan, dan perilaku. Skinner dkk. di Amerika
Serikat menekankan pada operant conditioning yang menciptakan sebuah pendekatan
fungsional untuk penilaian dan intervensi berfokus pada pengelolaan kontingensi
seperti ekonomi dan aktivasi perilaku. Ogden Lindsley merumuskan precision
teaching, yang mengembangkan program grafik (bagan celeration) standar untuk
memantau kemajuan klien. Skinner secara pribadi lebih tertarik pada
program-program untuk meningkatkan pembelajaran pada mereka dengan atau tanpa
cacat dan bekerja dengan Fred S. Keller untuk mengembangkan programmed
instruction.
Tujuan
umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses
belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku adalah dipelajari (learned), termasuk tingkah laku yang
maladaptif. Jika tingkah laku neurotik learned, maka ia bisa unlearned (dihapus dari ingatan), dan
tingkah laku yang lebih efektif bisa diperoleh.
Terapis
tingkah laku harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment, yakni terapis menerapkan
pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah manusia, para
kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru, pengarah, dan
ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam menentukan
prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada tingkahlaku yang
baru dan adjustive. Pembentukan hubungan pribadi yang baik
adalah salah satu aspek yang esensial dalam proses terapeutik, peran terapis
yang esensial adalah peran sebagai agen pemberi perkuatan. Para terapis tingkah
laku menghindari bermain peran yang dingin dan impersonal sehingga hubungan
terapeutik lebih terbangun daripada hanya memaksakan teknik-teknik kaku kepada
para klien.
Daftar pustaka:
Corey,
Gerald. 2009. Konseling dan Psikoterapi.
Bandung : PT. Refika Aditama
Corey,
Gerald. 2013. Teori dan Praktek Konseling
dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama
Gunarsa,
Sanggih. 2007. Konseling dan Terapi.
Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia
Nevid,
J, S. dkk. 2005. Psikologi abnormal.
Jakarta:Erlangga.