Kamis, 28 Mei 2015

TUGAS KESEHATAN MENTAL

1. Fenomena Depresi
2. Hubungan Kesehatan Mental Dengan Religiusitas



1. FENOMENA DEPRESI





Depresi adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri. Semua orang pernah merasa sedih, tapi ketika kita mengalami depresi, suasana hati yang sedih berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan. Kondisi ini akan sangat memengaruhi perasaan, perilaku, dan pola berpikir Anda. Banyak orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah kondisi yang bisa diubah dengan cepat atau secara langsung.

Akibat depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh diri. Menurut catatan WHO, setidaknya 350 juta orang mengalami depresi di dunia. Masih banyak penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah ditangani atau setidaknya dibicarakan. Depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan laki-laki. Terdapat hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi. Diperkirakan dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu orang dari mereka berakhir tewas.

Penyebab suatu kondisi depresi meliputi:
- Faktor organobiologis karena ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin.
- Faktor psikologis karena tekanan beban psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial.
- Faktor sosio-lingkungan misalnya karena kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, pasca bencana, dampak situasi kehidupan sehari-hari lainnya.

CONTOH KASUS DEPRESI

LUWUK - Amsar (19 tahun), salah satu mahasiswa baru (Maba) di Universitas Tompotika Luwuk yang tengah mengikuti inisiasi, nekat gantung diri dengan seutas tali Jepang atau yang biasa disebut dengan tali rafia. Pria asal Lumbi-lumbia Kabupaten Banggai Kepulauan itu diduga depresi berat sehingga mengakhiri hidupnya. Dia ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar kosnya oleh salah seorang rekannya bernama Han.

Kasat Reskrim Polres Banggai, AKP Prasetya Sejati, SIK menjelaskan kronologi penemuan jasad Amsar. Saat itu Han bermaksud menemui Rina, yang tinggal bersebelahan dengan kos korban, untuk menanyakan keberadaan korban. Namun, kata Rina, dirinya tidak mengetahui. Untuk mengetahui keberadaan korban, Han lantas mengetuk pintu kamar korban, namun sebelumnya Rina yang saat itu bersamanya mengintip terlebih dahulu melelaui lubang dinding papan kos korban.

Rina melihat dari lubang dinding, korban sudah dalam posisi gantung diri. Melihat kejadian itu, Rini langsung berteriak, sementara Han, langsung mendobrak pintu kamar korban dan melihat korban dengan jelas dalam posisi tergantung dengan menggunakan tali rafia/tali jepang. "Diduga korban mengalami depresi karena sehari sebelum kejadian, korban berteriak-teriak dan lari-lari disekitar rumah," terang Prasetya Sejati, kepada wartawan Minggu (26/9) sekitar pukul 19.30 wita. Kejadian itu terjadi pada Sabtu (26/9) lalu di Desa Tontouan, tepatnya di sekitar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Luwuk.

Dijelaskan, dalam kasus itu pihaknya sudah memeriksa tiga orang saksi, mereka adalah Han, Busra dan Rina. Ketiga saksi merupakan teman kost korban. Awalnya, para saksi yang menemukan Amsar sudah tergantung di salah satu sudut rumah, tidak berani menurunkan korban, mereka lantas menghubungi polisi. Tidak lama berselang sejumlah aparat kepolisian Polres Banggai tiba dilokasi dan menurunkan tubuh Amsar yang sudah terbujur kaku. Mayat remaja asal Lumbi-lumbia itu kemudian dibawa ke kamar mayat BRSUD Luwuk.

Salah seorang keluarga korban, Obin ketika ditemui di BRSUD Luwuk mengatakan, sebelum meninggalkan kampung di Desa Lumbi-Lumbia Kabupaten Bangkep, Amsar memiliki gangguan pada kedua matanya. Sehingga kata Obin pihak keluarga belum mengizinkan Amsar untuk melanjutkan sekolahnya, menunggu hingga matanya terlebih dahulu diobati.
Dikatakan Obin, Amsar tetap memaksa untuk melanjutkan sekolahnya, dan akhirnya mendaftar di kampus Untika Luwuk, pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Matematika. "Kalau soal pintar anak ini pintar terutama pelajaran menghitung," tuturnya. Obin mengatakan, Amsar juga termasuk anak yang tertutup, dan tidak mudah untuk mengutarakan apa yang dirasakannya. "Anaknya memang agak tertutup, sehingga sulit mengetahui apa yang sebenarnya dia rasakan," imbuhnya.

Dia menduga, kemungkinan besar Amsar mengalami tekanan sehingga mengakibatkan depresi berat. Apalagi kata Obin, Amsar sedang mengikuti kegiatan Inisiasi di Untika Luwuk, yang tentunya banyak permintaan-permintaan oleh panitia yang mungkin tidak bisa dipenuhinya, sehingga kemungkinan besar membebaninya. "Yah menurut rekan-rekannya begitu," ujar Obin.

ANALISIS KASUS 

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial. Kehidupan yang penuh stres pada saat ini seperti adanya bencana yang terjadi dimana-mana, dan berbagai peristiwa hidup yang menyedihkan dapat menyebabkan remaja mengalami depresi. Perlu diketahui bahwa remaja pun bisa kena depresi dan kalau tidak diatasi, episode depresi dapat berlanjut hingga remaja tersebut dewasa. Tetapi yang paling membahayakan dari depresi adalah munculnya ide bunuh diri atau melakukan usaha bunuh diri. Hinton (1989) mengatakan bahwa meskipun depresi yang diderita tidak parah namun risiko untuk bunuh diri tetap ada.
 
Dari kasus yang saya ambil Amsar mahasiswa di Universitas Tompotika Luwuk berusia 19 Tahun memiliki gangguan penyakit pada kedua matanya, karena penyakit ini keluarganya tidak mengizinkan Ia untuk melanjutkan sekolahnya lagi sampai menunggu kedua matanya sembuh, namun Ia tetap melanjutkan pendidikannya. Saat menjalankan kegiatan inisiasi di Kampusnya mungkin banyak sekali tuntutan yang tidak bisa Ia lakukan mungkin karena masalah ini ia tertekan dan mengambil jalan pintas dengan cara gantung diri didalam kamar kosnya.


Daftar Pustaka:
Baraja Abubakar. 2008. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Studia Press
Bimo Walgito. 1989. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi

2. HUBUNGAN KESEHATAN MENTAL DENGAN RELIGIUSITAS

Pengertian Religiusitas

Religi berasal dari bahasa Latin ‘ereligio’ yang akar katanya adalah ‘religare’dan berarti ‘mengikat’. Maksudnya adalah bahwa di dalam religi (agama) pada umumnya terdapat aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, yang semuanya itu berfungsi untuk mengikat dan mengutuhkan diri seseorang atau sekelompok orang dalam hubungannya terhadap Tuhan, sesama manusia serta alam sekitarnya. Agama adalah suatu ajaran dimana setiap pemeluknya dianjurkan untuk selalu berbuat baik. Untuk itu semua penganut agama yang mempercayai ajaran dan melaksanakan ajarannya mereka akan senantiasa melaksanakan segala hal yang ada dalam ajaran tersebut. Manusia tidak bisa dilepaskan dengan agama, ketika manusia jauh dari agama maka akan ada kekosongan dalam jiwanya. Walaupun mungkin kebutuhan materialnya mereka terpenuhi. Akan tetapi kebutuhan batin mereka tidak, sehingga mereka akan mudah terkena penyakit hati.

Penyakit hati yang melanda manusia yang tidak beragama akan senantiasa menghantui mereka sehingga mereka akan mudah putus asa. Oleh karena itu orang yang tidak beragama ketika mendapatkan persolan hidup mereka akan mudah putus asa dan akhirnya mereka akan melakukan penyimpangan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma atau ajaran agama.

Banyak  penyakit karena emosi-emosi buruk itu, yang tidak mungkin dapat disembuhkan oleh obat. Penyakit-penyakit sejenis ini dinamakan penyakit psikosomatik. Krisis akhlak pun mempunyai sebab-sebab dalam emosi tercela yang sedang merajalela. Karena emosi itu merupakan kenyataan yang dapat disaksikan pada tubuh manusia dan dapat dibagi dalam emosi yang negatif dan positif, sedangkan yang positif dapat melenyapkan atau menetralkan yang negatif dan menjadi peserta dalam insting religius, lantas akan menjadi bukti nyata bahwa religi itu anasir yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Jadi, religi bukan obat bius atau racun. Bahkan, sebaliknya religi menjadi obat mujarab bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan emosi negatif.

Pintu gerbang ke neraka ada tiga buah, yang merusak jiwa, yakni keinginan (syahwat), marah, dan serakah. Dalam ilmu kedokteran baru yang dinamai psikosomatik, yang sedang marak dipelajari di Eropa dan Amerika oleh Dr J.L.C. Wortman, dikatakan bahwa ilmu psikosomatik, ilmu kedokteran, agama, dan filsafat berjabatan tangan. Hal itu benar-benar akan menjadi pembuka jalan ke arah dunia baru, yang sejak lama kita nanti-nantikan dan yang akan menjamin kehidupan bahagia bagi seluruh umat manusia, lahir dan batin.

Pengertian Kesehatan

Menurut wikipedia, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Namun, secara umum pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum seseorang dari segi semua aspek. Dalam pengertian kesehatan ini dimaksudkan yaitu tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme dari suatu organisme dan juga termasuk manusia.

Pengertian kesehatan juga diungkapkan ketika WHO atau yang kita kenal sebagai Organisasi Kesehatan Dunia di dirikan yaitu pada tahun 1948. Yang mana pengertian kesehatan merupakan sesuatu yang tidak hanya dimaksudkan sebagai suatu kelemahan atau ketiadaan suatu penyakit melainkan juga merupakan keadaan mental dan fisik serta juga kesejahteraan sosial.
Pemfokusan pada definisi kesehatan dan evolusi selama enam dekade pertama hanya pada segelintir publikasi saja. Sebagian dari mereka memfokuskan pada kekurangan nilai operasional serta juga permasalahan yang timbul pada pemakaian kata ‘lengkap’ tersebut. Kemudian yang lainnya mengungkapkan tentang definisi kesehatan yang masih belum diubah dari semenjak tahun 1948 yaitu kalimat ‘hanya yang buruk’.
 
Pengertian kesehatan kemudian diungkapkan lagi oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Piagam Ottawa yang didedikasikan untuk promosi kesehatan pada tahun 1986. Pada saat itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut menyatakan bahwa kesehatan bukan tujuan dari hidup melainkan sumber daya untuk hidup sehari-hari. Selain itu, kesehatan dikatakan juga sebagai suatu konsep yang positif dan terfokus pada kemampuan fisik dan juga sumberdaya sosial.
Kemudian pengertian kesehatan juga merupakan suatu keadaan atau kondisi dari jiwa dan raga serta juga sosial yang dapat menjadikan seseorang dengan kehidupannya yang produktif baik dari segi ekonomi maupun dari segi kehidupan sosialnya.

Hubungan Kesehatan Mental Dengan Religisitas

Pergeseran zaman dan kemajuan tekhnologi tidak dapat terelakkan lagi, saat ini penyakit sudah dapat dilihat dan diobati dengan obat-obatan yang bagus dengan menggunakan metode pengolahan canggih, perkembangan ilmu pengetahuan dapat lebih menspesifikkan penyakit-penyakit tersebut. Ada penyakit yang bersumber dari virus, bakteri atau baksil-baksil sehingga untuk mengobatinya membutuhkan obat-obatan medis, tetapi ada juga penyakit yang bersumber dari jiwa atau hati suatu individu, jadi secara fisik individu tersebut tidak terkena virus, bakteri atau baksil-baksil, namun pada kenyataannya individu sakit.

Dengan demikian, berkembanglah ilmu kesehatan yang dapat mengurangi atau malah dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya dengan operasi, menurut sebagian orang operasi itu bisa mengurangi atau menyembuhkan penyakit. Namun, kita juga  belum bisa menghubungkan mana yang berdasarkan ajaran agama atau tidak. Semisal, pengobatan dengan cara bekam, bekam merupakan pengobatan yang dibawa Rasulullah SAW, berarti  ini dapat kita amalkan kepada orang lain. Disamping itu, bekam juga dapat meringankan penyakit – penyakit tertentu, seperti halnya pada orang yang  mengalami pegal – pegal pada bunggung,tengkung dan bagian tubuh yang lain dengan cara mengeluarkan darah kotor yang dapat menyumbat sirkulasi darah pada jaringan tertentu.


Ada pula pengobatan yang haram bagi ajaran agama, terutama agama Islam, seperti terapi urine yang sudah terbukti mengurangi resiko diabetes mellitus dengan cara meminum air kencing yang pertama kali keluar saat pagi hari. Dari pandangan agama, itu sangat diharamkan, karena seperti halnya minum alkohol ataupun makan bangkai, air kencing merupakan zat sisa dari metabolism tubuh yang mengandung racun (toksik) , dan apabila terlalu sering dikonsumsi maka akan terjadi kerusakan pada hati dan organ lainnya.

Daftar Pustaka:

Al-jauiziyah, Ibn Al-qayim.1999. Terapi Penyakit Dengan Alqur’an dan As-sunah. Jakarta: Pustaka Amani
Lomenta, Benjamin. 1989. Buku Panduan Pelayanan Kesehatan. Bandung : EGC
Subandi, M. A. 2013. Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar