1. Fenomena Depresi
2. Hubungan Kesehatan Mental Dengan Religiusitas
1. FENOMENA DEPRESI
Depresi
adalah suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu.
Ketika mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan,
tidak punya motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal
yang dulunya menghibur, dan menyalahkan diri sendiri. Semua
orang pernah merasa sedih, tapi ketika kita mengalami depresi, suasana hati
yang sedih berlangsung hingga berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.
Kondisi ini akan sangat memengaruhi perasaan, perilaku, dan pola berpikir Anda. Banyak
orang yang menganggap depresi adalah sesuatu yang sepele dan bisa hilang dengan
sendirinya, padahal sebenarnya depresi adalah bentuk suatu penyakit yang lebih
dari sekadar perubahan emosi sementara. Depresi bukanlah kondisi yang bisa
diubah dengan cepat atau secara langsung.
Akibat
depresi, kegiatan sehari-hari seperti bersekolah atau bekerja menjadi tidak
menyenangkan. Bahkan untuk mempertahankan hubungan dengan orang lain maupun
keluarga sendiri terasa begitu berat. Depresi bisa membuat Anda merasa hidup
ini tidak ada gunanya, bahkan dapat memicu penderita untuk melakukan bunuh
diri. Menurut
catatan WHO, setidaknya 350 juta orang mengalami depresi di dunia. Masih banyak
penderita depresi yang tidak mengakui kondisi mereka, sehingga tidak pernah
ditangani atau setidaknya dibicarakan. Depresi lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan laki-laki. Terdapat
hampir satu juta orang di dunia melakukan bunuh diri akibat depresi.
Diperkirakan dari dua puluh orang yang berniat untuk melakukan bunuh diri, satu
orang dari mereka berakhir tewas.
Penyebab
suatu kondisi depresi meliputi:
- Faktor organobiologis karena
ketidakseimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin.
- Faktor psikologis karena tekanan beban
psikis, dampak pembelajaran perilaku terhadap suatu situasi sosial.
- Faktor sosio-lingkungan misalnya karena
kehilangan pasangan hidup, kehilangan pekerjaan, pasca bencana, dampak situasi
kehidupan sehari-hari lainnya.
CONTOH KASUS DEPRESI
LUWUK
- Amsar (19 tahun), salah satu mahasiswa baru (Maba) di Universitas Tompotika
Luwuk yang tengah mengikuti inisiasi, nekat gantung diri dengan seutas tali
Jepang atau yang biasa disebut dengan tali rafia. Pria asal Lumbi-lumbia
Kabupaten Banggai Kepulauan itu diduga depresi berat sehingga mengakhiri
hidupnya. Dia ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar kosnya oleh salah
seorang rekannya bernama Han.
Kasat
Reskrim Polres Banggai, AKP Prasetya Sejati, SIK menjelaskan kronologi penemuan
jasad Amsar. Saat itu Han bermaksud menemui Rina, yang tinggal bersebelahan
dengan kos korban, untuk menanyakan keberadaan korban. Namun, kata Rina,
dirinya tidak mengetahui. Untuk mengetahui keberadaan korban, Han lantas
mengetuk pintu kamar korban, namun sebelumnya Rina yang saat itu bersamanya
mengintip terlebih dahulu melelaui lubang dinding papan kos korban.
Rina
melihat dari lubang dinding, korban sudah dalam posisi gantung diri. Melihat
kejadian itu, Rini langsung berteriak, sementara Han, langsung mendobrak pintu
kamar korban dan melihat korban dengan jelas dalam posisi tergantung dengan
menggunakan tali rafia/tali jepang. "Diduga korban mengalami depresi
karena sehari sebelum kejadian, korban berteriak-teriak dan lari-lari disekitar
rumah," terang Prasetya Sejati, kepada wartawan Minggu (26/9) sekitar
pukul 19.30 wita. Kejadian itu terjadi pada Sabtu (26/9) lalu di Desa Tontouan,
tepatnya di sekitar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Luwuk.
Dijelaskan,
dalam kasus itu pihaknya sudah memeriksa tiga orang saksi, mereka adalah Han, Busra
dan Rina. Ketiga saksi merupakan teman kost korban. Awalnya, para saksi yang
menemukan Amsar sudah tergantung di salah satu sudut rumah, tidak berani
menurunkan korban, mereka lantas menghubungi polisi. Tidak lama berselang
sejumlah aparat kepolisian Polres Banggai tiba dilokasi dan menurunkan tubuh
Amsar yang sudah terbujur kaku. Mayat remaja asal Lumbi-lumbia itu kemudian
dibawa ke kamar mayat BRSUD Luwuk.
Salah
seorang keluarga korban, Obin ketika ditemui di BRSUD Luwuk mengatakan, sebelum
meninggalkan kampung di Desa Lumbi-Lumbia Kabupaten Bangkep, Amsar memiliki
gangguan pada kedua matanya. Sehingga kata Obin pihak keluarga belum
mengizinkan Amsar untuk melanjutkan sekolahnya, menunggu hingga matanya
terlebih dahulu diobati.
Dikatakan
Obin, Amsar tetap memaksa untuk melanjutkan sekolahnya, dan akhirnya mendaftar
di kampus Untika Luwuk, pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)
Jurusan Matematika. "Kalau soal pintar anak ini pintar terutama pelajaran
menghitung," tuturnya. Obin mengatakan, Amsar juga termasuk anak yang
tertutup, dan tidak mudah untuk mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Anaknya memang agak tertutup, sehingga sulit mengetahui apa yang
sebenarnya dia rasakan," imbuhnya.
Dia
menduga, kemungkinan besar Amsar mengalami tekanan sehingga mengakibatkan
depresi berat. Apalagi kata Obin, Amsar sedang mengikuti kegiatan Inisiasi di
Untika Luwuk, yang tentunya banyak permintaan-permintaan oleh panitia yang
mungkin tidak bisa dipenuhinya, sehingga kemungkinan besar membebaninya.
"Yah menurut rekan-rekannya begitu," ujar Obin.
ANALISIS KASUS
Masa
remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu
tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat,
pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh
karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni
masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan
sosial. Kehidupan
yang penuh stres pada saat ini seperti adanya bencana yang terjadi dimana-mana,
dan berbagai peristiwa hidup yang menyedihkan dapat menyebabkan remaja
mengalami depresi. Perlu diketahui bahwa remaja pun bisa kena depresi dan kalau
tidak diatasi, episode depresi dapat berlanjut hingga remaja tersebut dewasa.
Tetapi yang paling membahayakan dari depresi adalah munculnya ide bunuh diri
atau melakukan usaha bunuh diri. Hinton (1989) mengatakan bahwa meskipun
depresi yang diderita tidak parah namun risiko untuk bunuh diri tetap ada.
Dari
kasus yang saya ambil Amsar mahasiswa di Universitas Tompotika Luwuk berusia 19
Tahun memiliki gangguan penyakit pada kedua matanya, karena penyakit ini
keluarganya tidak mengizinkan Ia untuk melanjutkan sekolahnya lagi sampai
menunggu kedua matanya sembuh, namun Ia tetap melanjutkan pendidikannya. Saat
menjalankan kegiatan inisiasi di Kampusnya mungkin banyak sekali tuntutan yang
tidak bisa Ia lakukan mungkin karena masalah ini ia tertekan dan mengambil
jalan pintas dengan cara gantung diri didalam kamar kosnya.
Daftar
Pustaka:
Baraja
Abubakar. 2008. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Studia Press
Bimo
Walgito. 1989. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Penerbit Andi
2. HUBUNGAN KESEHATAN MENTAL DENGAN RELIGIUSITAS
Pengertian Religiusitas
Religi
berasal dari bahasa Latin ‘ereligio’ yang akar katanya adalah ‘religare’dan
berarti ‘mengikat’. Maksudnya adalah bahwa di dalam religi (agama) pada umumnya
terdapat aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, yang
semuanya itu berfungsi untuk mengikat dan mengutuhkan diri seseorang atau
sekelompok orang dalam hubungannya terhadap Tuhan, sesama manusia serta alam
sekitarnya. Agama adalah suatu ajaran dimana setiap pemeluknya dianjurkan untuk
selalu berbuat baik. Untuk itu semua penganut agama yang mempercayai ajaran dan
melaksanakan ajarannya mereka akan senantiasa melaksanakan segala hal yang ada
dalam ajaran tersebut. Manusia tidak bisa dilepaskan dengan agama, ketika
manusia jauh dari agama maka akan ada kekosongan dalam jiwanya. Walaupun
mungkin kebutuhan materialnya mereka terpenuhi. Akan tetapi kebutuhan batin
mereka tidak, sehingga mereka akan mudah terkena penyakit hati.
Penyakit
hati yang melanda manusia yang tidak beragama akan senantiasa menghantui mereka
sehingga mereka akan mudah putus asa. Oleh karena itu orang yang tidak beragama
ketika mendapatkan persolan hidup mereka akan mudah putus asa dan akhirnya
mereka akan melakukan penyimpangan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan
norma atau ajaran agama.
Banyak penyakit karena emosi-emosi buruk itu, yang
tidak mungkin dapat disembuhkan oleh obat. Penyakit-penyakit sejenis ini
dinamakan penyakit psikosomatik. Krisis akhlak pun mempunyai sebab-sebab dalam
emosi tercela yang sedang merajalela. Karena emosi itu merupakan kenyataan yang
dapat disaksikan pada tubuh manusia dan dapat dibagi dalam emosi yang negatif
dan positif, sedangkan yang positif dapat melenyapkan atau menetralkan yang
negatif dan menjadi peserta dalam insting religius, lantas akan menjadi bukti
nyata bahwa religi itu anasir yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Jadi,
religi bukan obat bius atau racun. Bahkan, sebaliknya religi menjadi obat
mujarab bagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gangguan emosi negatif.
Pintu
gerbang ke neraka ada tiga buah, yang merusak jiwa, yakni keinginan (syahwat),
marah, dan serakah. Dalam ilmu kedokteran baru yang dinamai psikosomatik, yang
sedang marak dipelajari di Eropa dan Amerika oleh Dr J.L.C. Wortman, dikatakan
bahwa ilmu psikosomatik, ilmu kedokteran, agama, dan filsafat berjabatan
tangan. Hal itu benar-benar akan menjadi pembuka jalan ke arah dunia baru, yang
sejak lama kita nanti-nantikan dan yang akan menjamin kehidupan bahagia bagi
seluruh umat manusia, lahir dan batin.
Pengertian Kesehatan
Menurut
wikipedia, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Namun,
secara umum pengertian kesehatan yaitu suatu kondisi atau keadaan secara umum
seseorang dari segi semua aspek. Dalam pengertian kesehatan ini dimaksudkan
yaitu tingkat keefisienan dari fungsional dengan atau tanpa metabolisme dari
suatu organisme dan juga termasuk manusia.
Pengertian
kesehatan juga diungkapkan ketika WHO atau yang kita kenal sebagai Organisasi
Kesehatan Dunia di dirikan yaitu pada tahun 1948. Yang mana pengertian kesehatan
merupakan sesuatu yang tidak hanya dimaksudkan sebagai suatu kelemahan atau
ketiadaan suatu penyakit melainkan juga merupakan keadaan mental dan fisik
serta juga kesejahteraan sosial.
Pemfokusan
pada definisi kesehatan dan evolusi selama enam dekade pertama hanya pada
segelintir publikasi saja. Sebagian dari mereka memfokuskan pada kekurangan
nilai operasional serta juga permasalahan yang timbul pada pemakaian kata
‘lengkap’ tersebut. Kemudian
yang lainnya mengungkapkan tentang definisi kesehatan yang masih belum diubah
dari semenjak tahun 1948 yaitu kalimat ‘hanya yang buruk’.
Pengertian
kesehatan kemudian diungkapkan lagi oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO
pada Piagam Ottawa yang didedikasikan untuk promosi kesehatan pada tahun 1986.
Pada saat itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut menyatakan bahwa
kesehatan bukan tujuan dari hidup melainkan sumber daya untuk hidup
sehari-hari. Selain itu, kesehatan dikatakan juga sebagai suatu konsep yang
positif dan terfokus pada kemampuan fisik dan juga sumberdaya sosial.
Kemudian
pengertian kesehatan juga merupakan suatu keadaan atau kondisi dari jiwa dan
raga serta juga sosial yang dapat menjadikan seseorang dengan kehidupannya yang
produktif baik dari segi ekonomi maupun dari segi kehidupan sosialnya.
Hubungan Kesehatan Mental Dengan Religisitas
Pergeseran
zaman dan kemajuan tekhnologi tidak dapat terelakkan lagi, saat ini penyakit
sudah dapat dilihat dan diobati dengan obat-obatan yang bagus dengan
menggunakan metode pengolahan canggih, perkembangan ilmu pengetahuan dapat
lebih menspesifikkan penyakit-penyakit tersebut. Ada penyakit yang bersumber
dari virus, bakteri atau baksil-baksil sehingga untuk mengobatinya membutuhkan
obat-obatan medis, tetapi ada juga penyakit yang bersumber dari jiwa atau hati
suatu individu, jadi secara fisik individu tersebut tidak terkena virus,
bakteri atau baksil-baksil, namun pada kenyataannya individu sakit.
Dengan
demikian, berkembanglah ilmu kesehatan yang dapat mengurangi atau malah dapat
menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satunya dengan operasi, menurut sebagian
orang operasi itu bisa mengurangi atau menyembuhkan penyakit. Namun,
kita juga belum bisa menghubungkan mana
yang berdasarkan ajaran agama atau tidak. Semisal, pengobatan dengan cara
bekam, bekam merupakan pengobatan yang dibawa Rasulullah SAW, berarti ini dapat kita amalkan kepada orang lain. Disamping
itu, bekam juga dapat meringankan penyakit – penyakit tertentu, seperti halnya
pada orang yang mengalami pegal – pegal
pada bunggung,tengkung dan bagian tubuh yang lain dengan cara mengeluarkan
darah kotor yang dapat menyumbat sirkulasi darah pada jaringan tertentu.
Ada
pula pengobatan yang haram bagi ajaran agama, terutama agama Islam, seperti
terapi urine yang sudah terbukti mengurangi resiko diabetes mellitus dengan
cara meminum air kencing yang pertama kali keluar saat pagi hari. Dari
pandangan agama, itu sangat diharamkan, karena seperti halnya minum alkohol
ataupun makan bangkai, air kencing merupakan zat sisa dari metabolism tubuh
yang mengandung racun (toksik) , dan apabila terlalu sering dikonsumsi maka
akan terjadi kerusakan pada hati dan organ lainnya.
Daftar
Pustaka:
Al-jauiziyah, Ibn Al-qayim.1999. Terapi
Penyakit Dengan Alqur’an dan As-sunah. Jakarta: Pustaka Amani
Lomenta, Benjamin. 1989. Buku Panduan
Pelayanan Kesehatan. Bandung : EGC
Subandi, M.
A. 2013. Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar