Provinsi
Kalimantan Selatan yang beribu kota di Banjarmasin terletak di sebelah
selatan pulau Kalimantan. Sebelah barat berbatasan dengan propinsi
Kalimantan Tengah, sebelah timur dengan Selat Makasar, sebelah selatan
dengan Laut Jawa dan di sebelah utara berbatasan dengan propinsi
Kalimantan Timur.
Gunung Meratus membelah Kalimantan Selatan menjadi 2 wilayah yang berbeda. Bagian selatan provinsi adalah daratan rendah dengan sungai-sungai yang terbentang melewati menuju rawa hutan bakau yang luas sepanjang pesisir pantai dan menjadikan tanah Kalimantan luar biasa subur.
Pada umumnya daerah Kalimantan Selatan terdiri dari dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau (panas). Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Mei. Sedangkan musim kemarau (panas) terjadi pada bulan Juni sampai Agustus dan di antara kedua musim tersebut terdapat musim pancaroba.
Di Kalimantan Selatan Anda dapat menikmati wisata alam yang terdiri dari banyak sungai, hutan, danau, dan pegunungan, serta wisata budaya dan sejarah berupa peninggalan beranekaragam seni dan budaya.
Banyak perkampungan dan pemukiman dibangun di sepanjang sungai Barito oleh penduduk asli Banjar.
Di sinilah Anda dapat menikmati budaya sungai di Banjarmasin sebagai corak budaya tersendiri yang menarik. Sebagian besar kegiatan masyarakat di Banjarmasin terjadi sungai atau di sekitar sungai. Oleh karena itu sangatlah menarik menyaksikan kehidupan kota dari tengah sungai. Anda dapat menyewakan perahu motor yang mangkal di tepi sungai dengan tarif sekitar Rp75.000,00 per jam guna memulai perjalanan menyusuri sungai melewati sejumlah lokasi penarikan dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam. Inilah salah satu kegiatan wisata paling menarik di kota Banjarmasin dengan berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal. Daerah pinggiran kota pemandangan alam sungainya masih asli dan wisatawan dapat menyusuri sepanjang sungai Martapura dan sungai Barito dengan menggunakan perahu Klotok dan Speedboat.
Gunung Meratus membelah Kalimantan Selatan menjadi 2 wilayah yang berbeda. Bagian selatan provinsi adalah daratan rendah dengan sungai-sungai yang terbentang melewati menuju rawa hutan bakau yang luas sepanjang pesisir pantai dan menjadikan tanah Kalimantan luar biasa subur.
Pada umumnya daerah Kalimantan Selatan terdiri dari dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau (panas). Musim hujan biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Mei. Sedangkan musim kemarau (panas) terjadi pada bulan Juni sampai Agustus dan di antara kedua musim tersebut terdapat musim pancaroba.
Di Kalimantan Selatan Anda dapat menikmati wisata alam yang terdiri dari banyak sungai, hutan, danau, dan pegunungan, serta wisata budaya dan sejarah berupa peninggalan beranekaragam seni dan budaya.
Banyak perkampungan dan pemukiman dibangun di sepanjang sungai Barito oleh penduduk asli Banjar.
Di sinilah Anda dapat menikmati budaya sungai di Banjarmasin sebagai corak budaya tersendiri yang menarik. Sebagian besar kegiatan masyarakat di Banjarmasin terjadi sungai atau di sekitar sungai. Oleh karena itu sangatlah menarik menyaksikan kehidupan kota dari tengah sungai. Anda dapat menyewakan perahu motor yang mangkal di tepi sungai dengan tarif sekitar Rp75.000,00 per jam guna memulai perjalanan menyusuri sungai melewati sejumlah lokasi penarikan dengan waktu tempuh dua hingga tiga jam. Inilah salah satu kegiatan wisata paling menarik di kota Banjarmasin dengan berjalan-jalan menyusuri sungai dan kanal. Daerah pinggiran kota pemandangan alam sungainya masih asli dan wisatawan dapat menyusuri sepanjang sungai Martapura dan sungai Barito dengan menggunakan perahu Klotok dan Speedboat.
Kerajinan tradisional yang indah dibuat
dari bahan baku lokal seperti batu, emas, perak, kuningan, besi, dan
juga berbagai varietas kayu seperti bambu dan rotan.
Sejarah
Penduduk awal di wilayah ini
tinggal dekat pantai di kaki Gunung Meratus. Terkadang pedagang dari
India dan Cina datang yang kemudian membuat kota-kota kecil ini
berkembang lebih besar dan makmur.
Kerajaan Banjar pada abad ke-16 dan 17
sudah mengadakan hubungan dengan kesultanan Demak dan Mataram. Kerajaan
inipun tidak luput incaran bangsa asing seperti Belanda dan Inggris yang
silih berganti mendatangi pelabuhan Banjar.
Penjajahan oleh Belanda memaksa rakyat berjuang meraih kemerdekaan, namun berakhir sia-sia. Beberapa pemimpin ditangkap, diasingkan bahkan dihukum mati.
Saat masa pendudukan Jepang, rakyat pun kembali berjuang keras melakukan perlawanan bersenjata.
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, Kalimantan Selatan menjadi provinsi tahun 1956.
Penjajahan oleh Belanda memaksa rakyat berjuang meraih kemerdekaan, namun berakhir sia-sia. Beberapa pemimpin ditangkap, diasingkan bahkan dihukum mati.
Saat masa pendudukan Jepang, rakyat pun kembali berjuang keras melakukan perlawanan bersenjata.
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, Kalimantan Selatan menjadi provinsi tahun 1956.
Transportasi
Kalimantan Selatan terhubung
dengan kota-kota di seluruh kepulauan Indonesia melalui Bandar Udara
Syamsudin Noor yang terletak sekitar 25 km dari Banjarmasin.
Masyarakat dan Budaya
Mayoritas masyarakat
Kalimantan Selatan disebut Banjar yang beragama Islam dan taat
beribadat. Orang Melayu juga mendominasi tempat ini.
Penduduk asli Kalimantan Selatan umumnya suku bangsa Banjar yang intinya terdiri dari sub suku, yaitu Maayan, Lawangan dan Bukiat yang mengalami percampuran dengan suku bangsa Melayu, Jawa dan Bugis. Identitas utama yang terlihat adalah bahasa Banjar sebagai media umum.
Penduduk pendatang seperti Jawa, Melayu, Madura, dan Bugis sudah lama datang ke Kalimantan Selatan. Suku bangsa Melayu datang sejak zaman Sriwijaya atau sebagai pedagang yang menetap, suku bangsa Jawa datang pada periode Majapahit bahkan sebelumnya, kemudian orang Bugis datang mendirikan kerajaan Pegatan di masa lalu.
Suku-suku Maayan, Lawangan, Bukit, dan Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.
Di masyarakat Banjar berkembang seni sastra dan seni suara yang indah. Semula dari pergaulan sehari-hari di anatara mereka saling sindir menyindir kadang-kadang dengan bahasa syair dan pantun-pantun. Ada kalanya bersifat humor di antara muda-mudinya. Sindir menyindir ini kemudian berkembang menjadi seni sastra yang indah misalnya pepatah-pepatah.
Penduduk asli Kalimantan Selatan umumnya suku bangsa Banjar yang intinya terdiri dari sub suku, yaitu Maayan, Lawangan dan Bukiat yang mengalami percampuran dengan suku bangsa Melayu, Jawa dan Bugis. Identitas utama yang terlihat adalah bahasa Banjar sebagai media umum.
Penduduk pendatang seperti Jawa, Melayu, Madura, dan Bugis sudah lama datang ke Kalimantan Selatan. Suku bangsa Melayu datang sejak zaman Sriwijaya atau sebagai pedagang yang menetap, suku bangsa Jawa datang pada periode Majapahit bahkan sebelumnya, kemudian orang Bugis datang mendirikan kerajaan Pegatan di masa lalu.
Suku-suku Maayan, Lawangan, Bukit, dan Ngaju dipengaruhi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa, dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam, dari kerajaan Banjar, sehingga menumbuhkan suku bangsa Banjar yang berbahasa Banjar.
Di masyarakat Banjar berkembang seni sastra dan seni suara yang indah. Semula dari pergaulan sehari-hari di anatara mereka saling sindir menyindir kadang-kadang dengan bahasa syair dan pantun-pantun. Ada kalanya bersifat humor di antara muda-mudinya. Sindir menyindir ini kemudian berkembang menjadi seni sastra yang indah misalnya pepatah-pepatah.
Kuliner
Soto Banjar adalah makanan khas daerah ini. Beberapa bumbu yang digunakan adalah adalah cengkeh, biji pala dan kayu manis.
Keanekaragaman kue disini juga tidak kalah enaknya seperti roti goreng dengan beragam isiannya. Ada juga kue ketan pisang yang wajib Anda cicipi.
Keanekaragaman kue disini juga tidak kalah enaknya seperti roti goreng dengan beragam isiannya. Ada juga kue ketan pisang yang wajib Anda cicipi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar