Contoh analisis elemen pokok Opini publik dalam kasus KPK Vs POLRI
Pembetukan sebuah opini public selalu didasari
dengan adanya sebuah fenomena yang terjadi dalam masyarakat atau publik itu
sendiri. Salah satu fenomena yang baru saja terjadi dan menjadi salah satu pembentuk
opini publik dan menjadi trending topik dikalangan publik adalah Save KPK.
Fenomena Save KPK tersebut berawal dari Kasus korupsi Simulator SIM ditubuh
POLRI yang diusut oleh KPK. Dalam perjalanan pengusutan kasus korupsi tersebut,
POLRI meminta kepada KPK untuk menyerahkan kasus tersebut untuk diselesaikan
oleh POLRI, sehingga timbul lah beberapa konflik yang terjadi antara KPK dan
POLRI dikarenakan perebutan penangan kasus korupsi Simulator SIM.
Tidak hanya sampai disitu,
seolah diterjang badai KPK juga berhadapan dengan Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR
) Republik Indonesia Komisi 8 bagian Hukum, dalam kasus ini adanya isu bahwa
adanya Rancangan Undang Undanng KPK yang menurut Versi KPK akan melemahkan KPK
itu sendiri. Sehingga timbulah gejolak dimasyarakat dan para tokoh tokoh
politik dan hukum serta mahasiswa di Indonesia yang merasa keberadaan KPK
semakin terjepit dan tertindas oleh para elit politik dinegara ini.
Seolah tidak berhenti
disitu kasus KPK semakin tergerus dan semakin ditekan dengan adanya penarikan
Penyidik POLRI secara besar besaran yang dipekerjakan kontrak di KPK oleh
POLRI, beberapa penyidik yang ada di KPK secara tiba tiba ditarik masal oleh
Institusi POLRI dengan alasan masa kontrak para penyidik di KPK telah habis
masa tugas nya, selain itu ketidakjelasan status para penyidik di KPK juga
menjadi salah satu alasan para penyidik untuk kembali ke Institusi nya berasal
yaitu POLRI, sehingga semakin memperuncing konflik antar KPK dan POLRI.
Beberapa kasus yang
menerjang KPK tersebut akhirnya mendapat begitu banyak reaksi dimasyarakat.
Keadaan KPK yang dirasakan masyarakat semakin terjepit dan ditekan oleh para
orang orang yang memiliki kepentingan tidak semerta merta membuat masyarakat
diam begitu saja. Bermulai dari trending topic pada Social Media tentang
SAVE KPK menapat respon yang cukup banyak bagi para pengguna social media.
Tidak hanya itu banyak Aksi yang dilakukan beberapa kalangan seperti
Demonstrasi oleh Mahasiswa secara besar besaran hapir diseluruh penjuru tanah
air, aksi social penggalangan dukungan oleh berbagai LSM dan komunitas yang
mengatas namakan dirinya sebagai peduli KPK dan masih banyak lagi. Sehingga
akhirnya kasus ini mendapat perhatian khusus oleh Presiden Republik Indonesia
sebagai pemimpin tertinggi dalam kedua institusi Negara tersebut.
A. Analisis
Dalam fenomena tersebut
terdapat 5 elemen pokok opini publik yang terjadi dalam proses penyebaran isu
sampai menjadi opini publik.
1. Terdapat Isu
Dalam proses pembentukan opini masyarakat menangggapi fenomena Save KPK
tersebut, diawali dengan adanya Isu yang berkembangan dalam publik. Dalah hal
ini isu yang berkembang adalah adanya Oknum oknum tertentu yang memiliki
kepentingan seperti POLRI dan para anggota Dewan DPR yang ingin menekan dan
bermaksud melemahkan KPK. Isu tersebut lah yang awalnya berkembang sehingga
menyulut kemarahan dan opini dalam publik untuk bertindak menyelamatkan KPK.
Dalam proses penyebaran isu tidak hanya terjadi antar pribadi secara langsung
melainkan juga melalui beberapa social media dan beberapa forum dan media massa
di Indonesia.
2. Adanya keterkaitan masyarakat
dengan isu.
Dalam isu yang menyebar dikalangan publik terdapat keterkaitan masyarakat
dengan isu, dimana masyarakat merupakan benteng pembela KPK. Bagi masyarakat
KPK merupakan lembaga Negara yang saat ini masih dapat diandalkan dalam rangka
pemberantasan Korupsi yang memakan uang Negara dan menyengsarakan masyarakat
serta KPK pun dijadikan sebagai garda terakhir bagi masyarakat untuk mengontrol
penggunaan kekuasaan oleh pemerintah sehingga masyarakat menganggap KPK sebaga
lembaga independen negara yang harus dipertahankan dan dibela keberadaaan nya.
Media massa pun begitu gencar memebritakan kepada masyarakat dikarenakan respon
masyarakat terhadap fenomena tersebut sangatlah tinggi dan artinya ada
keterkaitan masyarakat denga isu yang ada.
3. Adanya pilihan yang sulit.
Dalam penyebaran isu Save KPK tersebut pun terdapat pilihan yang sulti bagi
publik dalam menentukan opini nya. Dalam isu yang meyebar dalam opini dan yang
diberikan dalam media massa, adanya versi versi yang berbeda dalam kronologi
fenomena Save KPK tersebu. Publik dihadapkan oleh beberapa versi seperti Versi
pihak POLRI yang menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan POLRI merupakan
tindakan yang sesuai dengan Undang Undang yang berlaku di Indonesia yaitu
masalah dalam tubuh PORLI maka harus diselesaikan oleh POLRI bukan oleh lembaga
Sipil, sedangkan masalah penarikan penyidik POLRI di KPK oleh POLRI dilakukan
karena keinginan para penyidik sendiri yang sudah tidak tahan dengan
ketidakjelasan status mereka dalam KPK sehingga ketika kontrak habis mereka
memutuskan kembali kepada institusinya,
Selain itu versi berbeda dinyatakan oleh KPK bahwa terdapat kesalahan pada
Undang Undang KPK yang tidak mengatur wilayah kerja KPK sehingga KPK berhak
mengusut kasus Korupsi Simulator SIM yang terdapat ditubuh POLRI. Ditambahkan
lagi bahwa adanya RUU KPK oleh DPR RI juga menurut KPK sebagai upaya pelamahan
dari DPR RI untuk KPK itu sendiri. Versi versi yang ada pun membuat masyarakat
dihapkan kepada pilihan yang sulit untuk menetukan sikap terhadap kasus dan isu
yang ada.
4. Adanya pendapat/ opini.
Beberaa isu isu yang meyebar dari sumber bebererapa bersi yang ada akhirnya
menimbulkan pendapat dan opini dalam masyarakat, sebagai hasil tanggapan
terhadap fenomena yang terjadi, dalam hal ini setelah adanya isu yang menyebar
tentang Save KPK. Banyak berita ada media massa yang memuat berarap pendapat
para ahli serta tokoh tokoh politik dan hokum di Indonesia. Dalam opini dan
pendapat yang disampaikan terdapat opini yang berbeda beda pada setiap nara
sumbernya dikarenakan banyak versi yang dipercaya masing masing narasumber.
Tidak hanya pada media massa di social media dan forum pun berkembang opini dan
pendapat masyarakat dalam rangka menanggapi isu fenomena tersebut.
5. Jumlah orang yang terlibat.
Fenomena tersebut pun melibatka orang dalam jumlah yang cukup banyak
diantaranya lembaga Negara seperti KPK, DPR RI dan POLRI dan jumlah besar yang
dilibatkan merupakan segenap masyarakat diseluruh Indonesia yang peduli dengan
fenomena tersebut sepert Tokoh tokoh politik, pengamat hukum, LSM dan yang
dalam jumlah yang sangat besar yaitu Mahasiswa.
B. Tahap Pembentukan Opini
Dalam pembentukan opini menanggapi fenomena tersebut terdapat 4 tahap
pembentukan opini sesuai dengan 4 Tahap pembentukan Opini menurut Erikson,
Lutberg dan Tedin.
Munculnya isu yang dirasakan sangat relevan bagi kehidupan orang banyak, sesuai
dengan 5 elemen pokok yang telah dijelaskan sebelumnya pada saat penyebaran isu
tersebut sangat dirasakan relevan dengan kehidupan masyarakat dengang banyak
nya isu yang berkembang dimedia massa yang direspon oleh masyarakat luas.
Diawali dengan peduli nya masyarakat terhadap KPK kemudian menjadi trending
pembicaraan dikalangan masyarakat
Tahap pembentukan selanjutnya isu tersebut relatif baru hingga memunculkan
kekaburan standar penilaian / standar ganda. Kesimpangsiuran isu yang beredar
dalam masyarakat serta banyak nya sumber sumber yang berpendapat dan beropini
sehingga tahap pembentukan ini pun terjadi. Didalam masyarakat sendiri tidak sedikit
yang menadapatkan informasi dan isu yang berkembang berbeda sehingga
masyakarakat melakukan penilaian yang berebda pula.
Tahapan yang ketiga dalam
opini publik adalah keberadaan Opinion Leaders (tokoh pembentuk opini /
provokatornya) dalam proses pembentukan opini publik dalam fenomena ini
tersebut juga terdapat beberapa pendapat para tokoh tokoh pembentuk opini
skaligus memberikan pandangan kepada masyarakat luas diantaranya seperti Pakar
hukum, pengacara, tokoh politik, aparat serta lembaga lembaga yang
berkepntingan didalamnya, selain itu juga terdapat pendapat dan pandangan para
akademisi yang ada di Indonesia seperti mahasiswa dan guru guru besar di
Indonesia.
Pada Tahapan
terakhir dalam pembentukan opini publik adalah bahwa isu mendapatkan perhatian
media hingga informasi dan reaksi terhadap isu tersebut diketahui khalayak. Hal
ini terlihat jelas dengan pemberitaan yang terus menerus dalam media massa
sehingga masyarakat dapat menerima informasi secara terus menerus, kemudian
pemberitaan secara terus menerus tersebut hingga akhirnya membentuk masyarakat
beropini terhadapa fenomena tersebut. Media massa berperan aktif dalam
penyebaran informasi pada masyarakat.
C. Dampak Media
Dampak media memepengaruhi beberapa lapisan di dalam masyarakat diantaranya:
1.
Individu
Sangat jelas dampak media
mampu mempengaruhi manusia secara individu, dari pemberitaan yang dilakukan di
media secara terus menerus akan mempengaruhi atensi atau perhatian masyarakat
pada kasus ini sehingga menimbulkan pendapat dan padangan individu dalam
masyarakat
2.
Kelompok Organisasi
Pengaruh media
terhadap kelompok organisasi sangatlah besar terlihat dari beberapa media yang
memuat berita yang mecantumkan narasumber dari beberapa kalangan kelompok
organisasi seperti LSM dan Partai Politik. Sehingga dapat dipastikan adanya
dampak media juga dirasakan oleh kelompok organisasi.
3.
Institusi sosial
Pengaruh
damapak media yang nyata dirasakan oleh institusi sosial adalah dengan banyak
nya media yang memberikan trending topic mengenai fenomena tersebut maka
semakin banyak institusi sosial yang menggalangkan aksi sosial di masyakarat.
Seperti aksi penggalangan dukungan terhadap KPK oleh beberapa Institusi sosial
yang ada di Indonesia.
4.
Budaya
Dalam fenomena ini tidak
terlalu begitu besar dampak media mempengaruhi budaya secara langsung. Hanya
saja budaya kritis dalam masyarakat sedikit lebih tumbuh dalam menyikapis isu
yang beredar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar